New Normal dalam Pendidikan Kita

Ahmad Shofiyuddin Ichsan, M.A., M.Pd.

Dosen Fakultas Tarbiyah IIQ An Nur Yogyakarta

 

Selama kata New Normal sampai ke telinga orang Indonesia, kasus positif Covid-19 bukan menurun, tetapi justru semakin meningkat tajam. Kita lihat beberapa minggu terakhir, kasus positif selalu tembus seribu lebih secara berurutan. Apalagi kasus PDP yang naik sangat signifikan sungguh memprihatinkan kita semua.

 

Melihat data terbaru (Minggu, 19 Juli 2020), Indonesia mencatatkan rekor telah mencapai 4.143 korban meninggal dunia dengan total kasus positif mencapai 86.521 jiwa manusia. Sebuah kasus kematian terbesar dibanding dengan kasus di negara-negara tetangga lainnya. Misalnya, di Filipina, jumlah kematian sebesar 1.831 jiwa. Di Malaysia sebesar 123 jiwa. Di Thailand sebesar 58 jiwa. Di Singapura 27 jiwa. Sedangkan di negara Vietnam, Kamboja, Laos, Timor Leste sama sekali tidak ada korban jiwa yang meninggal akibat virus ini.

 

Kembali ke kasus positif dan korban yang meninggal di Indonesia, jumlah sebesar itu belum tercatat sudah berapa ratus atau mungkin berapa ribu kasus kematian dalam PDPnya. Perlu dpihami dan disadari bahwa satu nyawa meninggal dunia, satu keluarga perih berduka.

 

New Normal telah memuntahkan masyarakat Indonesia keluar rumah berjamaah. New Normal telah memberikan angin segar umat manusia untuk hidup normal kembali, tanpa batasan kata “New”nya itu. Sehingga yang terjadi adalah situasi dan kondisi semakin mengarah ke abnormal.

Memang semua sudah bosan di rumah, penat hidup terkekang berbulan-bulan seperti ini. Semua ingin bebas beraktivitas kembali. Wajar. Sangat wajar. Semua merasakan demikian. Tapi sangat tidak wajar dan begitu berbahaya jika kita memahami “New Normal” (baca: nyu normal) adalah “Yuuk Normal”. Kesannya bias, bebas, merasa aman, dan sak karepe dewe.

 

Lantas bagaimana dengan pendidikan kita di era New Normal ini?

 

Minggu ini (Senin, 20 Juli 2020) adalah minggu pertama pembelajaran di tahun ajaran baru 2020/2021. Pemerintah sudah sepakat mengambil kebijakan untuk terus melakukan pembelajaran daring (online) dari rumah masing-masing. Memang banyak hambatan dalam proses belajar daring ini, baik peserta didik tidak punya alat komunikasi daring (HP dan laptop), tetapi juga memiliki masalah serius tidak adanya biaya beli kuota data, juga diperparah di berbagai tempat sulitnya mencari sinyal internet. Hambatan tersebut tidak hanya dialami peserta didik, tetapi juga dialami oleh para pendidik di daerah-daerah tertentu di tanah Indonesia.

 

Walaupun banyak hambatan dan rintangan, bagaimanapun pendidikan harus terus berjalan di tengah tertatih-tatihnya goncangan dinamika Covid-19 yang begitu besar dirasakan seluruh umat manusia di dunia ini. Wacana New Normal sudah terlanjur digulirkan oleh pemerintah. Artinya, mau tidak mau pendidikan pun harus menyesuaikan kenormalan baru dengan segala konskuensinya. Dari titik ini, tentu banyak yang harus dipersiapkan, agar New Normal tidak menjadi bias, bumerang, dan teror baru dalam dunia pendidikan.

 

Persiapan demi persiapan yang perlu dilakukan adalah:

  1. Lingkungan sekolah harus terus steril, bersih, dan selalu disemprot desinfektan secara berkala, bisa setiap hari.
  2. Perlu dilengkapi berbagai sarana dan prasarana pendukung protokol kesehatan, seperti di berbagai pojok ruang diberi sabun dan air untuk mencuci tangan.
  3. Mensosialisasikan pendidikan di masa New Normal dengan berdiskusi secara virtual antara civitas akademika sekolah dan orang tua wali, agar ada satu komitmen kesepakatan dan dukungan satu sama lain untuk menggerakkan pendidikan kembali di ruang-ruang sekolah yang sudah bebebapa bulan ditinggalkan.
  4. Menjalin kerja sama secara intensif dengan Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan untuk memastikan hadirnya tenaga kesehatan di lingkungan sekolah dalam setiap minggunya, guna melakukan pemeriksaan kesehatan warga sekolah secara berkala.
  5. Membuat jadwal baru proses belajar mengajar yang disesuaikan dengan protokol kesehatan Covid-19, yakni membagi siswa masuk sekolah dengan beberapa sift waktu pembelajaran, jumlah jam belajar juga perlu diperpendek, perlu juga pembatasan jumlah mata pelajaran yang diajarkan dalam setiap harinya.

 

Akan tetapi, jika sekolah dalam memberikan jaminan pendidikan yang disertai jaminan kesehatan warga sekolah tidak didukung oleh orang tua, masyarakat sekitar, dinas pendidikan, dinas kesehatan, dan pemerintah daerah setempat, maka kebijakan penerapan pendidikan di era New Normal di ruang-ruang sekolah di atas perlu dipikir ulang. Karena hal ini perlu adanya sinergi dari berbagai pihak dan memerlukan tanggung jawab bersama demi menyelamatkan pendidikan dan generasi Indonesia di masa depan.

 

Kebijakan di masa New Normal tidak hanya diperlukan kebijakan yang normal seperti biasa, tetapi juga perlu dikonstruksi dari hasil kebijakan ekstra normal dengan penuh pertimbangan yang matang. Karena kebijakan akan kembali pada pemberi kebijakan itu sendiri. Artinya, jika kebijakan pembelajaran luring (tatap muka) di sekolah belum bisa diterapkan dengan berbagai alasan yang logis, maka kebijakan memperpanjang belajar daring mau tidak mau ‘terpaksa’ sementara harus dijalankan, tetapi harus diimbangi dengan solusi yang lebih baik, lebih manusiawi (baca: tidak memberatkan anak dengan berbagai beban tugas), lebih menyenangkan, lebih kreatif dan inovatif.

 

Bagaimanapun, kita semua tidak menginginkan korban dan kluster baru dalam pendidikan. Anak didik adalah penerus bangsa yang wajib kita selamatkan, baik keselamatan pendidikan maupun keselamatan kesehatannya. Karena hanya di tangan mereka, tongkat estafet pembangunan menuju peradaban manusia Indonesia dapat dijalankan.