Kesuksesan Berawal dari Keluarga Islami

Ali Mustaqim, M.Pd.I

Kaprodi PAI IIQ An-Nur Yogyakarta

 

Masyarakat di buat kebingungan dan kepayahan ketika adanya peraturan dari pemerintah untuk stay at home dalam menghadapi pandemi wabah corona atau covid ’19. Efek dari kebijakan peraturan tersebut para pelajar dituntut belajar dari rumah, beribadah dirumah dan segala bentuk aktivitas pekerjaan untuk bisa di laksanakan di dirumah.

Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat menjadi beban tersendiri, kususnya di dalam keluarga. Dalam keluarga, orang tua di tuntut untuk menjadi pengajar dadakan dari pelajaran-pelajaran sekolah yang biasanya di ajarkan oleh guru yang ada disekolah. Orang tua di tuntut mengajari ilmu-ilmu agama yang biasanya di ajarkan oleh ustadz-ustadzah di masjid-masjid atau tempat ibadah lainya.

Namun pada hakikatnya semua bentuk persoalan tersebut tidak berlaku jika orang tua memahami secara mendalam makna keluarga yang sesungguhnya. Keluarga adalah tempat berlangsungnya sosialisasi yang berfungsi dalam pembentukan kepribadian sebagai makhluk individu, makhluk social, makhluk susila dan makhluk beragama. Sebagai makhluk individu, keluarga harus mampu menanamkan karakter islami pada setiap individu di dalam keluarga. Seperti, bagaimana menghargai diri sendiri, menjaga diri, disiplin diri dan kemandirian diri.

Sebagia makhluk social, keluarga mengajarkan tentang bagaimana menghargai dan menghormati orang tuanya, menghargai dan menghormati tetangga sekitarnya, dan membantu di sekitarnya. Sebagai makhluk susila, keluarga mengajarkan tentang perbuatan mana yang pantas untuk di lakukan dan mana yang tidak pantas untuk dilakunan, mana perbutan terpuji dan mana perbuatan tercela. Yang terakhir sebagai makluk beragama, keluarga setidaknya mengajarkan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran agama islam, yaitu tentang Aqidah, syariat agama dan akhlak.

Karena keluarga meurut pandangan islam tidak hanya sebagai tempat berkumpulnya suami, istri dan anak. Tetapi lebih dari itu keluarga mempunyai peran dan fungsi penting dalam menentukan nasib suatu bangsa. Dalam Al-Qur’an 66: 6 Allah mengingatkan kepada kita semua dengan firman-Nya, “hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia.

Pengaruh keluarga dalam kepribadian anak sangat besar, Apakah anak akan mempunyai kepribadian yang kuat dan menghargai diri pribadinya atau anak yang berkepribadian lemah yang tidak menghargai dirinya sendiri. Hal ini tergantung dari latar belakang pengalamannya di lingkungan keluarga. walaupun dalam ukuran relative tidak sama.

Di dalam masayarakat, tidak sedikit sifat anak mencerminkan sifat orang tuanya, baik dalam arti positif atau negative, seperti pepatah “air dicucurkan atap, jatuhnya kepelimbahan juga” hal ini juga berlaku bagi kepribadian umum. Dari orang tua yang alim umumnya dapat diharapkan anak-anak yang alim juga, dan sebaliknya dari orang tua yang sering melakukan kejahatan di depan anak-anaknya maka sangat bersyukur apabila diperoleh anak-anak yang shalih.

Di lihat dari Porsi keluarga dalam pembentukan kepribadian, seharusnya keluarga mempunyai porsi lebih banyak dari segi akomodasi pengalaman. Dengan demikian keluarga harus memberikan pengalaman yang positif, baik aspek pengembangan anak sebagai makluk individu, social, susila maupun sebagai makluk yang beragama. Dari segi susila misalnya, anak menyaksikan penampilan-penampilan atau perilaku susila agung di rumah, maka sangat memungkinkan sekali jika ia akan berpribadian yang agung sebagaimana yang sering di lihatnya di rumah.

Syekh Muhammad Syalhut mengatakan Kuat lemahnya bangunan umat itu tergantung kepada lemah kuatnya keluarga yang menjadi batu dasar. Lebih lanjut HA. Mukti Ali mengatakan negera yang kuat, apabila negera itu terdiri dari rumah tangga-rumah tangga yang kuat.

Merujuk kepada sejarah berdakwah baginda Nabi Muhammad SAW dalam bentuk dakwah terang-terangan, Rasulullah SAW memulainya tidak lain adalah dari keluarga. Dalam Sirah Nabawiyah karangan Syeikh Shafiyyur Rahman Al-Mubarakfuri yang bersumber dari kitab Ar-Ruhiqul Makhtum bahwa gelombang pertama yang masuk islam dikenal sebagai As-Sabiqun Al-Awwalun, yang artinya orang-orang yang paling dahulu dan pertama masuk islam.

Pada barisan terdepan dan paling awal atau pertama kali masuk islam adalah isteri baginda Nabi Muhammad SAW, Ummul Mukminin Khodijah Binti Khuwailid. Selanjutnya maula (budak) beliau, zaid bin haritsah. Kemudian keponakan yang juga menantu beliau, ‘Ali bin Abi Thalib RA (kala itu masih anak-anak dan di bawah tanggungan beliau). Dari kalangan sahabat terdekat yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq. Mereka semua memeluk Islam, yang semua itu di mulai dari keluarga dalam rumah, kemudian keluarga di luar rumah dan sampai kepada sahabat-sahabat.

Maka dari itu, ketika adanya peraturan dari pemerintah untuk stay at home, belajar dari rumah, beribadah dirumah dalam menghadapi pandemi wabah corona atau covid ’19 kita tidak usah berkecil hati. Mari kita kita ciptakan kesuksesan dimulai dari  kelurga. Apalagi di bulan ramahdan yang penuh berkah ini. Mari kita isi dengan kegiatan-kegiatan yang bisa tercatat sebagai amal shalih. Kita memperbanyak membaca al-Qur’an, mengajarkan al-Qur’an kepada anak-anak kita sebagai momentum kebersamaan dengan adanya penerapan Stay At Home.

Dalam Jamu’uk Fawaid dengan riwayat Thabrani dari Anas ra Rasulullah bersabda: Barangsiapa mengajarkan anaknya membaca Alquran, maka dosa-dosanya yang akan datang dan yang telah lalu akan diampuni. Dan barangsiapa mengajarkan anaknya sehingga menjadi hafizh Alquran, maka pada hari Kiamat ia akan dibangkitkan dengan wajah yang bercahaya seperti cahaya bulan purnama, dan dikatakan kepada anaknya, ‘Mulailah membaca Alquran.” Ketika anaknya mulai membaca satu ayat Alquran, ayahnya dinaikkan satu derajat, hingga terus bertambah tinggi sampai tamat bacaanya.

Sahabat Abdullah bin Abbas Mengatakan sebagaimana di kutip oleh Syekh Nawawi Banten dalam kitab Tafsirnya Al-Munir, bahwa kelak Allah SWT akan memberi syafaat kepada orang mukmin, di mana sebagian mereka akan memberi syafaat kepada sebagian orang lain. Siapa yang lebih taat kepada Allah maka dialah yang lebih tinggi derajatnya di surga. Maka apabila ada orang tua yang lebih tinggi derajatnya di surga dari pada anaknya, maka atas permintaan sang orang tua Allah akan menaikkan derajat anaknya sehingga orang tuanya akan merasa bahagia bisa kembali berkumpul dengan anaknya. Demikian pula sebaliknya bila sang anak lebih tinggi derajatnya di surga di banding orang tuanya, maka Allah akan menaikkan derajat orang tuanya sehingga sang anak merasa senang dapat berkumpul kembali dengan orang tuanya.

Opini pernah dimuat di Tribun Jogja pada 14 Mei 2020